Mengupas Jejak Puisi Hujan Rinai Pribadi
Showing posts with label Rinai Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Rinai Pribadi. Show all posts

Saat Kau Pergi



rasanya seperti mimpi

saat kau katakan ingin pergi

bukan esok atau lusa, tapi hari ini

aku bahkan belum sempat menyadari

sekarang kau sudah tak lagi di sini

lalu bagaimana dengan esok?

ketika mentari terbit kembali

kau tak lagi di sisi

kawanku pergi…

tak lagi menemani

siapa yang akan mendengar kisahku nanti

ketika kau tak lagi sejati

Alie…

hari ini ia pergi

aku tak tahu apa ini sekadar mimpi atau reality

bila kau kan kembali?

lain rasanya malam ini

aku bahkan bertanya-tanya dimana kau kini

tak adanya jawaban malam ini

bukan seperti biasanya

bukan karena kau malas berkata-kata

tapi sebab kau tiada

ketiadaaan yang berbeda

jauh sekali terasa, entah dimana

Afrika?

yang nyata kini tidak lagi terbentang lautan beda negara, bukan?

kita terpisah benua, berjarak samudera

lalu, patutkah aku menangis malam ini

yang fana dan hampa tanpamu

pada tangan yang tak pernah berjabat

mata yang tak pernah saling menatap

wajah yang bahkan tak bersua

lalu, mengapa aku kehilangan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Kau, Kini dan Nanti



Kau bagai bintang panggung, di mana semua sorot lampu dan mata tertuju padamu.

Namun, mengapa rasa sepi itu lebih kuat menyerang

Mendatangkan takut hingga kau demam akan masa depan

Akan seperti apa 10 tahun mendatang?

Akankah kau masih berdiri di sini

Memandang angkasa yang sama

Yang ada di sini sekarang hanya sepi dan rasa takut.

Pada jalan yang kau tapaki

Akankah membawa dari pada mimpi

Pada apa yang kau damba dan yang diharapi

Sia-sia kah setiap peluh pada tenaga di mana kau terus berjalan untuk berjuang

Setiap tetes air mata pada luka dan sakit hati

Membawa kah mereka

Pada dirimu yang bukan apa-apa

Pada apa yang kau ingini

Sekarang yang tanpa kekasih

Ramai teman pada kehampaan

Cinta yang maya

Lalu di mana kah tangan yag mampu menggapai cita

Pada suatu hari di mana kau merasa kalah pada kecewa dan putus asa

Di mana kau cari harapan

Mengais-ngais pada jejak yang kau tinggal di belakang

Berharap kau dapatkan hidupmu yang sempurna di masa lalu

Yang mana tawa itu sekarang telah hilang

Senyum itu sudah mengering pudar

Kau sendiri Tanpa teman, tanpa kasih, tanpa keluarga, tanpa harapan

Takdir itu tanpa sadar telah kau lukis sendiri perlahan-lahan

Sekarang sepatutnya kau bersyukur atas karunia-Nya

Disaat kau nanti sendiri

Hanya Ia yang ada.

title="">

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Kala Sepi





Malam itu, al…

Tidakkah kau ingat pesan yang kau kirim padaku. Dimana kau kata ingin membagi segala dan membuatku tersenyum. Sadarkah kau aku hanya selalu menangis di sini. Bahkan saat kau ada yang dalam bayang-bayang fana pun, aku menangis terkadang tanpa tau sebab mengapa. Sebab mungkin kau tak nyata. Sebab mungkin sesungguhnya sepi itu tetap ada, atau mungkin sebab rasa yang kau cipta.



Kau kira kita bisa senang dan bahagia hanya dalam kata-kata yang senantiasa menghubungkan kita. Tapi aku ingin nyata, al… Itu mungkin sebab aku menangis di kala kau ada namun sepi tetap terasa.



Maafkan aku bila tak memahami. Maafkan aku hanya ingin menang sendiri. Tapi aku berharap padamu, al… Harap yang ku tahu sia-sia. Karma kah ini? Ia berkata padaku, bahwa sebagai perawan, aku selalu punya dosa. Ia bilang: “Salahmu adalah membuatku selalu ingin menyapamu. Mungkin itu salah yang tidak kamu sadari. Membuat lelaki berharap.”



Salahku kah? Bukan kah itu juga salahmu? Membuatku selalu ingin menyapamu dan berharap padamu. Kenapa perempuan yang harus tanggung derita? Kau di sana, al… Berharap wanita itu kembali padamu dengan rasa yang sama seperti dulu, ya kan?! Tapi kau sendiri ragu. Dalam rasa cinta yang masih teramat besar untuknya, namun kau juga kecewa didua. Ya kan, al? Kau kira aku tak tau apa-apa? Aku tau lebih dari yang kau fikir. Kau tak pernah terbuka tentang ini. Dan kau kira aku perempuan bodoh yang mau diam saja dalam rasa yang ingin tahu segala tentang kau dan dia.



Di kala wanita itu tak di sisi, di hari kau ucap inginkah ku jadi milikmu, ketika aku ragu luar biasa sebab takut segala, lalu kurelakan semua rasa dan berharap yang terjadi, terjadi lah… Lalu kau hempas aku dalam kecewa dan luka. Mengatakan kita tak bisa bersama. Kau ucap segala alasan agar inginmu itu terasa nyata.

Siapa yang gila kini, al? Aku yang terlalu bodoh. Kau bahkan tak ucap sayang atau cinta. Berdasar apa kau ingin aku jadi milikmu? Rasa tiba-tiba yang kau kata tak mampu kau jelaskan. Kau bahkan tak mampu beri alasan mengapa berbuat itu dan kemudian menolakkan sendiri.



Subuh ini, kala sepi setia merasuki tubuhku, aku merindumu. Hangat airmata yang tau pedihnya hatiku menantimu. Pada kecewa dan sia-sia aku mencintaimu.



Al, akankah kau cari aku kala sepi menghampirimu?



Aku di sini, al…

Setia menantimu seperti sepi setia untukku.



title="">

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Hujan Tengah Malam


dalam kebingunganku di tengah malam

tiba-tiba gerimis datang menari-nari

ah, kasihku telah tiba

hujan!

dalam gigil senandung angin malam

ntah apa yang ada dalam benakku sekarang

kasihku, datang malam ini

tiba-tiba, tanpa kabar awan menyeru terdahulu

begitu tiba-tiba juga kah cintanya padaku?

lelaki itu…

yang membangunkan tidurku juga malam ini

tanpa mampu kusadari apa yang sesungguhnya terjadi

dalam persahabatan ia jatuh cinta

wahai hujan,kasihku…

lalu dalam apa aku mencintaimu

apakah kau datang malam ini tuk temani gelisahku

sebab aku tak menangis, dan tak ada airmata

yang perlu kau samarkan dalam rintikmu seperti biasa

aku hanya bimbang dalam rasa yang entah apa

kau hanya mampir sebentar, bukan?

begitu juga kah rasanya?

awan mendung laksana rasaku

awan gelisah,awan hujan

bergelung tak menentu

beriak tak berarah

apa yang sebenarnya terjadi?

aka dan dia

lalu hujan malam ini…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Peka

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Perempuan Hujan Jatuh Cinta


Perempuan hujan sudah rindu dengan bau tanah basah. Ia rindu awan-awan mendung menemaninya menangis, menyamarkan airmatanya. Ia ingin menari-nari saat awan mulai menangis, meriangkan hatinya di dalam derasnya hujan. Membiarkan tubuhnya basah, merasakan arus-arus dingin di sekujur tubuhnya, ia rela hujan merasukinya. Perlahan ia ingin melupakan dan membuang jauh masalahnya. Ia ingin jatuh cinta hanya kepada hujan.

***



“Di sana hujan kah? Di sini jangankan hujan, Mas, gerimis saja malas mampir.”



“Iya. Hujan deras sekali.”



“Aku sudah kangen sama hujan, Mas. Tapi rasanya hujan masih lama datang. Mendung saja gak ada.”



“Panggil saja, pasti hujan datang. Lahirkan hujan dalam dirimu.



“Bagaimana caranya melahirkan hujan dari dalam diriku?”



“Ambil hujan di luar, rasakan airnya, rasakan basahnya, nikmati gigil dinginnya dan ikutkan arus rasa yang menjalari dirimu. Jadikanlah engkau kebasahan itu.”



“???…. Aku ga ngerti, Mas!”



“Pernah baca kumpulan cerpen ‘Hujan Menulis Ayam,’ Sutardji Calzoem Bahri?”



“Belum. Kenapa?”



“Nanti ada waktunya kamu akan mengerti.”



***



Perempuan itu bimbang. Ragu akan rasanya. Ia sadar, perlahan ia jatuh cinta kepada lelaki itu. Namun ia tak ingin lelaki itu terluka nantinya, sebab ia tahu bahwa tak mampu ia mencintai sepenuh hati. Ia tak kuasa menghalang. Ia ingin jatuh cinta kepadanya. Membalas rasanya. Berada dalam pelukan hangatnya dan mengatakan bahwa ia juga cinta.



Lelaki itu mencintainya. Ia tahu itu. Apa pun keadaannya, lelaki itu selalu ada untuknya. Membagi rasanya. Menemaninya. Mencintainya. Sementara Perempuan hujan itu masih ragu akan rasa dan bimbang akan rindu yang tak menentu. Jika lelaki itu sehari saja tak ada, ia risau, lalu rindu.



Ia sadar tak boleh membiarkan dirinya jatuh dalam rasa cinta kepada lelaki itu. Sebab nanti rasanya hanya akan buatkan luka dan derita bagi yang ia cinta. Sebab itu ia menahan rasa. Walaupun sesungguhnya ingin pula ia mencinta. Egoiskah ia?



Perempuan hujan itu selalu ingin lelaki itu memberi perhatian padanya, layaknya seorang kekasih. Malam ini ia bertengkar karena merasa diabaikan. Segala bujuk rayu akhirnya tercurah dari bibir lelaki itu, tapi rasa merajuknya lebih kuat dari segala bujuk rayu lelaki manapun. Ia tetap bergeming. Terus-terusan marah. Sampai lelaki itu muak jadinya. Lalu mengutukinya sebagai perempuan egois.



***

“Terus Mas belum mau pulang? Hari ini kan hari Jumat, biasanya orang-orang ingin pulang cepat. Lha kok ini malah betah di kantor.”



“Aku sebenarnya sudah mau pulang, tapi hujan deras sekali. Pandanganku tidak terlalu bagus kalau hujan deras. Aku ini minus 6,5 lho. Lagian aku bukan betah di kantor, tapi betah sama kamu, hehehe…”



“Halaaah… Bisa aja alasannya.”



“Bener kok, aku betah ngobrol sama kamu. Kadang kesepian membuat orang mampu dan ingin mengenal orang lain lebih dekat lagi.”



“Mas, aku boleh tanya pendapat?”



“Tentu saja.”



“Jika ada seorang lelaki yang mencintai seorang perempuan. Kemudian dengan segala alasan perempuan itu selalu menolaknya. Sesungguhnya ia juga cinta. Namun ia sadar tak boleh membiarkan dirinya jatuh cinta kepada lelaki itu, karena nantinya hanya akan melukainya. Karena perempuan itu sadar ia tak mampu mencintai sepenuh hati. Jadi terus berusaha untuk tidak jatuh cinta. Walaupun sesungguhnya perasaan itu tidak bisa dihalang. Yang perempuan tidak mau kehilangan perhatian lelaki itu, tetapi tidak bisa menerima lelaki itu juga, tidak bisa membalas rasanya. Pertanyaannya… Egoiskah perempuan itu?”



“Tidak.”



“Kenapa tidak?”



“Kalau egois, dia akan ikuti perasaannya, meski akibatnya lelaki itu akan terluka. Kalau egois, dia akan turutkan cintanya, meski tak bisa memberi sepenuh hati.”



“Tapi kan perempuan itu tidak mengizinkan lelaki itu mencintai dia. Tapi ia tetap ingin perahtian itu ada. Sementara si lelaki selalu dengan setia membaginya. Apa tidak egois namanya?”



“Kalau dia masih takut lelaki itu terluka, dia tidak egois. Tapi kalau aku jadi lelaki itu, aku akan tetap berusaha mendapatkan cintanya, meskipun tahu akan terus dilukai, disakiti, diberdarahi, dikhianati, dicueki, diapain pun. Karena mencintai adalah memberi, bukan mendapatkan.”



“….”



“Non cantik, besok kita sambung lagi ya? Supir kantor sudah ngantuk, kasihan menunggku. Terima kasih ya telah menemani malam ini. Thanks bgt, sepi dan hujan, kau wakafkan waktumu untuk jadi temanku. Aku pamit dulu. Bye…”



“Oke, sama-sama, Mas.Aku juga terima kasih.”



***



Perempuan hujan itu menangis malam ini, tapi hujan juga tak datang menemani. Ia marah pada segalanya. Ia marah pada hujan, sebab tak kunjung juga datang saat ia ingin tangisnya disamarkan rintiknya. Ia marah pada Tuhan, sebab berikan segala rasa yang tak bahagia. Cinta tak pernah indah untuknya. Selalu saja derita dan sengsara. Perempuan itu hanya ingin mencinta atau dicinta. Tapi saat ia mencinta yang ada hanya cinta tak berbalas, sementara kala ia dicinta ia yang tak mampu membalas.



Ia sesungguhnya mencintai, Al. Ia hanya tak ingin Al terluka nantinya sebab rasanya yang mungkin masih ragu-ragu. Mereka terlalu jauh terbentang jarak, itu salah satu alasan Perempuan hujan itu menahan rasa.



“Al, tau kah kenapa aku tak bisa mencintaimu lebih dari sekadar kawan?”



“Tak tahu.”



“Sebab aku tak ingin menyakitimu nantinya. Taukah kamu bedanya mencintai dan dicintai?

Yang mencintai selalu ingin membagi, rela terluka, rela sengsara demi yang dicinta. Sementara yang dicinta tak ingin yang mencinta sengsara, terluka, dan menderita.”



“Kamu ingin mencintai saya kah? Saya kah yang dicintai?”



“Ketika tadi kamu mengatakan bahwa aku begitu egois, aku sadar. Selama ini aku memang selalu begitukan kepadamu?”



“You want me to say things honestly?”



“Apa?”



“Kamu selalu ingin saya memperlakukan kamu seperti layaknya kekasih saya, ingin saya selalu ada setiap kamu ingin, tapi jika saya yang ingin kamu ada untuk saya, kamu tak boleh buat seperti itu. Lain hal jika kita ini memang betul-betul sebuah pasangan. Saya mempunyai kewajiban untuk bertanggung jawab dan peduli kepada kamu.”



“Ya. Semua yang kamu bilang memang benar. Aku tidak tahu kenapa begitu, Al.”



“Itu lah, kamu tidak pernah menyatakan apa-apa kepada saya.”



“Because I can’t! You know, I can’t love you because I don’t want to hurt you.”



“ Because we’re far away?”



“Yeah, that’s one of my reasons. Too much reason for me, Al. We are too far.”



“We can take it slowly”



“No, I can’t! I just can’t…”



***



… 4 bulan kemudian …



Perempuan hujan itu jatuh cinta lagi. Kepada lelaki yang selama ini hanya menemaninya kala mereka sama-sama merasa sepi. Lelaki yang ia tahu juga mencintai hujan, tanpa tau pasti apa alasannya. Lelaki yang pernah mengajarinya bagaimana melahirkan hujan dari dalam dirinya. “Lelaki Hujan” - itu sebutan untuknya.



Sudah 4 bulan terakhir ini perempuan hujan selalu berusaha melupakan Al, yang dicintanya. Ia hanya berbagi kisahnya kepada “lelaki hujan.” Ia merinduinya dalam bayang-bayang. Ia ingin menari bersamanya ketika hujan turun nanti. Perempuan hujan dan Lelaki Hujan berdansa mesra dalam nyanyian guntur dan senandung awan mendung. Namun hujan tak kunjung datang. Sampai kapan ia menunggunya? Sementara rindunya akan basah dan wangi tanah sudah tak tahu malu lagi datang setiap hari. Apakah hujan sudah tak setia lagi untuknya? Bila ia menangis lagi siapa yang akan menemani?



Perempuan hujan itu menyimpan rasa takut, takut untuk mencintai si Lelaki Hujan. Sebab ia tahu cinta tak pernah bersahabat baik dengannya. Akankah ia kehilangan lagi segala nanti?



“Seandainya aku masih lajang, aku pasti datang saat hujan tak hadir untukmu. Memberi sejuk yang sama nyamannya ketika gerimis menyapu wajahmu. Memberikan gigil yang sama dinginnya ketika hujan membasahimu. Menyamarkan tangismu dalam pelukanku. Tapi aku tak bisa meninggalkan wanita ini.”



“Tapi, Mas… Aku mencintaimu. Tidakkah kau juga ingin datang? Hujan sudah lama tak setia padaku lagi, apa kau juga hendak pergi?”



“Percayalah, aku akan selalu disini. Walaupun aku tak di sisimu. Dengarlah, Non, engkau Mentari, walaupun hujan tak menemani tapi kan awan berseri. Seharusnya kau bersenang hati. Tapi, wanita ini, sungguh, aku tak mampu meninggalkannya.”



“Kenapa, Mas? Apa karena saat ia menangis hanya kamu yang mampu menyamarkan airmatanya? Apakah rintihannya lebih merdu dari gerimis. Apakah berada di sisinya lebih teduh dari langit mendung? Aku tak mengerti, Mas! Kamu tahu aku mencintaimu, Lelaki Hujan-ku. Kamu membiarkan aku jatuh cinta kepadamu seperti aku cinta kepada hujan. Tapi sekarang kau biarkan aku sendiri dengan rasa ini.”



***



Perempuan hujan hanya ingin jatuh cinta kepada hujan saja. Hanya pada awan mendung dan rintik gerimis. Ia tak ingin lagi Al atau pun Lelaki Hujan-nya. Ia yakin hujan sebentar lagi datang, kembali menyapanya, dan menemaninya menari dalam deras rintik-rintiknya. Ia tak peduli pada sakitnya, ia tak hirau lagi pada tangisnya sebab hujan samarkan airmatanya. Ia relakan hujan merasukinya. Merasakan mereka satu, menari, dalam iringan nyanyian guruh menyambar.



Ia rasakan perlahan rintik-rintik gerimis membasahi kepalanya, terus mengalir membasahi tubuhnya. Petir menyeru kepadanya, memberitahukan hujan siap datang menyapa. Perempuan hujan itu berlari keluar. Ia sungguh-sungguh dimabuk cinta, pada kekasihnya yang sudah lama tak kunjung datang. Di luar rumahnya ia tengadah, awan mendung telah kembali. Atap gentingnya perlahan merintik. Lalu wangi tanah basah itu menyeruak timbul menguasainya, wangi rumput dan harum angin itu. Perempuan hujan terus menari, menangis tak berhenti. Ia luahkan semua rindunya. Ia selalu percaya pada kekasihnya, meski nanti ia pergi lagi dan hanya meninggalkan kemarau. Tapi ia akan selalu kembali. Laksana rahim kemarau yang senantiasa melahirkan hujan.



Perempuan hujan itu tau, ia takkan pernah sendiri…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Usai Sebelum Abadi

di sana kau yang bercinta
kemudian perlahan buta
yang terbang pada di sayap rama-rama
dan semua warna yang kau anggap surga dunia
menjelma neraka
lalu, kau bertanya
ini dosa siapa

ia yang mendadak hilang
terbius lupa arti setia
ingatlah
iblis juga yang memisahkan
Adam dan Hawa

aku tahu kau ingin menangis
berjalan sendiri pada lorong itu
pada suatu pagi hari
dalam rintik rintik hujan gerimis
dan tak ingin ada orang bertanya kenapa


air mata itu memuai dalam udara
menjelma debu menyesakkan dada
kau belum mati di sana
jika tahu arti cinta yang sebenarnya

laksana terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
yang tak berkosa kata
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari makna
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali


dan yang usai sebelum abadi
pasti sangat dirindukan
namun biarkan
kenangan yang akan mengukir
mengabadikan waktu
meski semu

akan terlalu banyak kata
jika harus terucap
lalu nanti menjadi dosa
karena menangis
kehilangan setia
mengadu pada kata-kata
yang kau tahu hampa

lalu nanti kau sadari
sengit matahari
bukan yang menerbitkan debu kemarau
walau terik sampai ke bulu bulu mata
ia yang ciptakan bayangan
dari ufuk hingga petang
untuk menemanimu

aku yang di sini
sendiri
memejam mata
lalu berdoa
semoga yang diharap abadi
menjelma reality
amin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments