Perempuan Hujan
Labels: Puisi Hujan | at 5:24 PM

perempuan hujan sudah rindu bau tanah basah
rindu wangi rumput dan harum wangi angin pagi
kapan hujan datang lagi?
jangankan petir menari-nari
mendung saja ragu menghampiri
awan sedang bahagia kah?
sebab mentari terik berseri
perempuan hujan rindu pelangi
rindu suasana saat-saat mendung datang dan gerimis menyapa
perempuan hujan itu sudah mulai menangis lagi
ia rindu awan menemani
Lelaki
Labels: Puisi Hujan | at 5:22 PM

ada apa dengan lelaki?
iblis kah mereka?
yang mampu menjebak hawa dalam dosa
lalu mereka tertawa bahagia
terkutuklah kalian para kaum adam
aku wanita menyumpahi
atas nama sakit hati dan rasa kecewa
serta berbagai ribu luka
ada apa dengan lelaki
yang hanya ingin bebas dan lepas
yang selalu senang lari dari masalah
kalian yang para pendosa
terkutuklah engkau
wahai para lelaki yang kucinta
biar derita menyelubungimu
tak terhapus dosa
hingga kau menuju neraka!
Suddenly Goodbye
Labels: Puisi Hujan | at 5:15 PM

Maaf jika rasa itu tak pernah terluahkan
Maaf jika sayang itu tak dapat terucapkan
Sampai akhirnya hanya selamat tinggal,
yang tiba-tiba datangnya, harus disampaikan
Aku akan merindukanmu
Sampai pandangan mata menghilang
Walau tanpa lambaian tangan, takkan ku melupakan
Seperti membiarkan rama-rama terbang mencari warnanya
Aku menangis karena melepas indahnya
Namun apa daya jika sayapnya sudah hendak mengebas
Pergilah, kawan …
Memang kita tak pernah bergandeng tangan
Tak pernah mata saling menatap
Tak ada pelukan dan belaian
Namun aku sekarang kehilangan
Lalu, nanti kepada siapa aku mengadu
Saat tak ada lagi telinga hendak mendengarkan
Mengapa harus tiba-tiba kau pergi
Sementara baru rasanya kemarin kita asik berbagi kisah
Masih terlalu banyak yang inginku ceritakan
Masih terlalu banyak cerita disimpan
Kepada siapa nantinya harus tersampaikan
Bukan perpisahan seperti ini yang kuharapkan
Selamat tinggal yang tiba-tiba terucapkan
Seandainya aku tahu ini akan jadi kenyataan
Akan lebih banyak waktu kuluangkan
Untuk mengerti, menyadari
Apa yang seharusnya terjadi
Dan seandainya aku boleh memohon
Untuk jangan pergi
Sebab aku masih ingin kau di sini
Saat Kau Pergi
Labels: Rinai Pribadi | at 5:08 PM

rasanya seperti mimpi
saat kau katakan ingin pergi
bukan esok atau lusa, tapi hari ini
aku bahkan belum sempat menyadari
sekarang kau sudah tak lagi di sini
lalu bagaimana dengan esok?
ketika mentari terbit kembali
kau tak lagi di sisi
kawanku pergi…
tak lagi menemani
siapa yang akan mendengar kisahku nanti
ketika kau tak lagi sejati
Alie…
hari ini ia pergi
aku tak tahu apa ini sekadar mimpi atau reality
bila kau kan kembali?
lain rasanya malam ini
aku bahkan bertanya-tanya dimana kau kini
tak adanya jawaban malam ini
bukan seperti biasanya
bukan karena kau malas berkata-kata
tapi sebab kau tiada
ketiadaaan yang berbeda
jauh sekali terasa, entah dimana
Afrika?
yang nyata kini tidak lagi terbentang lautan beda negara, bukan?
kita terpisah benua, berjarak samudera
lalu, patutkah aku menangis malam ini
yang fana dan hampa tanpamu
pada tangan yang tak pernah berjabat
mata yang tak pernah saling menatap
wajah yang bahkan tak bersua
lalu, mengapa aku kehilangan?
Sia-sia
Labels: Puisi Hujan | at 5:03 PM

bahagia akan datangkah pada malaikat yang tak bersayap
pada setiap tarikan nafas
pada pengorbanan atas semua rasa
dan airmata
lelah pada rasa yang sama yang berulang atas nama cinta
menanti
berkorban
bersabar hati
pada hal yang belum tentu sejati
mengapa cinta tak pernah dipihaknya
yang selalu setia
berbagi rasa
bersabar sampai habis daya
airmata bahkan tak bisa mengalir
mata bahkan sudah bosan terpejam
sebab hadir bayangmu selalu
fikiran sudah jemu
dan kata-kata pun gagu
nyatakah hadirmu?
tuluskah rasamu?
jika aku saja selalu berkorban rasa
lalu dimana kau buktikan cinta
pada apa?
bagaimana?
cinta pada rasa memiliki semata
ku duga
akhirnya, kita hanya sia-sia
Sun & Rain fallin' in Love
Labels: Puisi Hujan | at 10:11 PM
Dan, ia selalu bilang…
Pelangi, yang muncul setelah Hujan reda, tak kan ada jika Mentari tak berperan serta membantu Hujan membuatnya.
Maka wajarlah jika Mentari begitu mencintai Hujan.
Yang setiap rintik gerimisnya buatkan sinarnya teduh.
Lalu, bukankah juga sebaliknya.
Ketika Hujan mencintai mentari.
Ketika ia duka dalam mendung.
Lalu menangis pada gerimis.
Maka, Mentari bantu ciptakan Pelangi.
Mentari cintai hujan.
Karena ia yang paling mengerti dukanya.
Sedihnya ditemani mendung dan tangisnya disamarkan gerimis.
Di luar ia memang bersinar.
Tapi, siapa yang tahu lukanya.
Hanya Hujan yang paling setia.
Maka, saat Mentari dan Hujan jatuh cinta
Lihatlah…
Ada Pelangi di langit sana
te>





