Kenapa aku ingin menangis saat ia "sudah bebas"

sedari dulu yang aku tunggu adalah “kebebasannya.” sampai aku ingin ia sendiri. lalu, biar nanti aku saja yang menemaninya. biar aku dan dia saja di dunia ini. aku tahu ia tak ingin “bebas” dari jeratnya. aku tahu ia setia, meski terkadang tetap menggoda.
awalnya, aku begitu sakit hati. tak rela ia pergi. namun perlahan-lahan aku mencoba untuk mengerti, kenapa jika memang cinta tak cobe mengikhlaskan ia. biar saja ia mencari jalannya sendiri, bahagianya sendiri. sakit itu tetap ada di sini, namun perlahan-lahan aku mencoba belajar menerima kenyataan ia tak mungkin termiliki.
dua tahun belajar mencintainya sekaligus mengikhlaskannya. yang tak bisa dijauhi bahwa rindu pasti akan lahir dan air mata setia mengalir. lalu, sampai hari itu tiba…
ia katakan bahwa ia “bebas” tapi sesungguhnya ia tak ingin lepas. lalu, bukankah seharusnya aku bahagia. tapi mengapa lalu aku ingin menangis saat ia sudah “bebas”? karena jawabnya ia tak rela “terlepas”




